Road Travel : Sumatra 2

Berikut ini adalah lanjutan catatan perjalanan kami mengelelilingi Pulau Sumatera , bagi yang belum membaca bagian pertama klik disini, bagi yang belum membaca bagian Pulau Sabang klik disini.

Etape 6
Banda Aceh – Bukittinggi
25 Desember 2015

              


  Kami akhirnya sampai juga di Pelabuhan Ulee Lheu lagi. Tidak terasa kalau perjalanan dengan kapal cepat berjalan sangat cepat. Sungguh pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan dengan menaiki kapal ferry Ro-ro. Setelah itu kami mempersiapkan mobil dan keliling kota Banda Aceh.
Kapal Di Atas Rumah
PLTD Apung
                Saat berada di kota Banda Aceh kami tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengunjungi tempat wisata. Pertama kami mengunjungi kapal PLTD Apung yang terdampar di tengah perkampungan. Karena tempat wisata saat itu tutup, kami mengunjungi kapal terdampar yang satu lagi. Yaitu objek wisata Kapal di atas Rumah. Saat itu pukul 9 pagi, namun objek wisata yang terkenal di Aceh itu sudah diramaikan pengunjung lokal maupun asing. Di salah satu reruntuhan bangunan tersebut menjadi sebuah museum. Didalamnya terdapat foto-foto yang diambil saat kejadian Desember tahun 2004 tersebut. Dan juga terdapat nama-nama orang yang menghilang dari kampung disana.
                Setelah itu kami mengunjungi kedai kopi aceh yang telah kami kunjungi sebelumnya yaitu warung kopi solong/jasa ayah , yang terkenal akan menjual kopi aceh khas ulee kareengnya. Sesampai disana, melainkan tutup saat kami pertama kali datang namun sekarang sangat ramai akan pengunjung. Kami datang kesana belum mendapat tempat, sehingga kami menunggu di dekat pengunjung yang akan selesai meninggalkan mejanya. Setelah mendapatkan meja, kami langsung memesan kopi ulee kareng yang terkenal itu dan beberapa makanan kecil lainnya. Kami juga membeli beberapa kopi aceh yang sudah dikemas sedemikian rupa .
Sumber : Google
                Setelah itu kami pergi ke Masjid Baiturrahman untuk shalat jumat. Sekarang baru terlihat banyaknya jamaah shalat jumat di dalam Masjid.



                
Sehabis shalat, kami membeli beberapa oleh-oleh untuk teman-teman di Jakarta. Di dekat sana terdapat warung nasi, jadi kami makan siang di warung nasi setempat.
                Sekitar pukul 2 siang kami meninggalkan kota Banda Aceh. Kami tidak melewati jalan yang kami lalui saat berangkat yaitu Lintas Timur, melainkan Lintas Barat Sumatera. Jalan lintas barat ini tidak seramai lintas timur, namun selama perjalanan kami disuguhi panorama yang indah dan jalan yang mulus. Jalan yang kami lalui sangat mulus serasa berkendara selayaknya di jalan tol.


             

   Setelah beberapa saat, terdapat beberapa perbukitan di sekitar kami. Maka jalan yang kami lewati cukup berkelok-kelok tajam. Tetapi jalan tetap mulus dan tidak berlubang. Saat melewati jalan tersebut, kami menemui warung-warung makan di pinggir jalan. Warung tersebut selain menyediakan hidangan, juga menyediakan pemandangan dari atas bukit yang indah. Namun, kami tidak sempat mampir , karena ramai.





 Kami cukup terkejut saat kami melihat pantai dengan pasir putih di sisi jalan. Pantai tersebut adalah pantai tak bertuan. Memang selama perjalanan , terlihat beberapa resort di sisi jalan. Jadi kami memutuskan untuk singgah sebentar untuk berfoto-foto. Menurut informasi dari teman dan internet, pantai tersebut adalah pantai Lhoong/ Lhoknga. Pantai tersebut terkenal akan ombaknya, jadi banyak turis asing kesana untuk berselancar.




             

Masjid Agung Meulaboh
                Kami memasuki kota Meulaboh saat waktu maghrib. Kami mampir shalat di Masjid Agung di Meulaboh. Setelah shalat kami istirahat beberapa menit untuk refreshing. Kami mampir ke minimarket untuk membeli snack dan perlengkapan. Mencari minimarket seperti indoapril dan betamart cukup sulit. Kami belum makan malam, jadi kami mampir di warung makan mie aceh terdekat dan segelas Kopi Aceh terakhir di wilayah Aceh.
                Pukul 20.30 kami melanjutkan perjalanan kami menuju perbatasan Sumatera Utara. Setelah beberapa kilometer dari Meulaboh, kami tidak lagi menyusuri pantai , melainkan mendaki bukit-bukit yang cukup terjal. Saat itu jalan tidak seramai Banda Aceh- Meulaboh.
                Setelah melewati kota Tapaktuan kami menemukan hal yang janggal dari GPS kami. Setelah beberapa kilometer dari kota Tapaktuan, terdapat jalan lurus yang panjangnya mencapai belasan kilometer. Setelah jalanan tersebut kami mampir di kota terdekat untuk ngopi dan beristirahat sejenak. Bertolak dari kota tersebut, jalanan masih ditemui yang sangat lurus itu , sampai belok dan mendaki bukit-bukit yang berada dalam wilayah bukit barisan. Pada dini hari kami melintasi perbatasan wilayah Sumatera Utara dengan Nanggore Aceh Darussalaam.

                Kami beristirahat di pinggir jalan sejenak sampai matahari terbit. Kami sarapan di daerah yang bernama Dolok Sanggul. Di Dolok Sanggul kami makan nasi rames jawa dan mengisi bensin.
                Setelah mampir di Dolok Sanggul, kami meneruskan perjalanan kami. Jalan di Sumatera Utara tidak sebagus jalan di Aceh. Beberapa ruas jalan sangat sempit dan rusak. Kebanyakan kami melewati jalan perkampungan. Pemandangannya berbukit-bukit.
                Setelah 20-an Kilometer dari Kota Siborong-borong. Karena kami belum mandi sejak kami dari Sabang,di sebuah daerah yang bernama Situmeang Hasundutan, banyak tempat pemandian air panas alami. Terdapat kolam seperti kolam renang namun dengan air panas. Air panas tersebut diperoleh dari kandungan belerang dan kapur. Saat itu kami datang ke salah satu tempat pemandian air panas tersebut yang baru saja buka. Kami sempat mengobrol dengan penjaga kolam, katanya ini adalah kolam terbersih diantara kolam-kolam yang lain. Beruntung sekali kami bisa mendapatkan tempat tersebut.
               


Selanjutnya sekitar pukul 2 siang, kami makan siang di kota Sipirok. Kami makan di warung makan Padang. Setelah itu kami mencari masjid untuk shalat. Terdapat kejadian unik pada masjid ini. Masjid ini memiliki WC umum seperti layaknya WC biasanya, namun tidak ada pintunya. Selama perjalanan, baru kali ini kami melihat WC tanpa pintu. Jadi WC di masjid ini sekitar 4 atau 5 bilik tidak berpintu. Sialnya kami melihat seseorang yang sedang buang air besar pada WC tak berpintu tersebut.
                Perjalanan terhambat karena macet saat mau masuk kota Padang Sidempuan. Banyak sekali truk-truk berat yang berjalan sangat pelan menanjak. Sehingga sangat sulit untuk menyalip karena jalan yang sempit. Untuk menghilangkan rasa capek , kami mampir untuk makan duren dipinggir jalan.               Kami mampir untuk shalat maghrib di kota Panyambungan yang merupakan masih wilayah Sumatera Utara. Masih tersisa 210 Km lagi menuju Bukittinggi. Medan yang dilalui cukup berat karena banyak tikungan dan saat itu malam hari. Kondisi jalan tidak terlalu baik.
                Sesampai di Bukittinggi pada dini hari sekitar pukul 1 pagi. Mencari hotel di Bukittinggi pada saat musim liburan sangat sulit. Semua hotel sudah penuh. Saat mendatangi hotel yang kami cari, ternyata sudah penuh. Penjaga hotel itu menawarkan kamar kosong seperti losmen. Kami menolaknya dan segera mencari hotel yang lain. Setelah sampai di hotel tersebut, hotel juga sudah penuh. Sama dengan penjaga sebelumnya , penjaga hotel yang ini juga menawarkan kamar sewaan. Kami butuh istirahat , kami tidak istirahat di tempat tidur sejak dari Sabang. Kami setuju dan dipandu oleh penjaga hotel tersebut menuju kamar sewaan tersebut. Memang kamar sewaan tersebut tidak terlalu bagus. Kamar mandi diluar, dan kasur yang tidak begitu nyaman. Namun dengan harga tembakan yang lebih mahal dari hotel. Apa boleh buat, kami bermalam di tempat itu karena kami memerlukan istirahat.


Etape 7

Bukittinggi – Bengkulu

27 Desember 2015 – 28 Desember 2015


             
  

   Sebelum melanjutkan perjalanan , kami memutuskan untuk keliling kota Bukittinggi. Yang pertama kami ingin mencoba Nasi kapau Bukittinggi yang khas. Banyak yang menyarankan kami untuk pergi ke Pasar Atas. Jadi kami pergi dari kamar tersebut pukul 9 pagi.
                Kami memutuskan ke Pasar Atas di pusat kota. Di Pasar Atas banyak sekali warung makan Nasi Kapau khas Bukittinggi tersebut. Cukup membingungkan untuk memilih warung untuk sarapan. Dan yang cukup ramai yaitu Nasi Kapau Uni Lis yang merupakan warung nasi kapau yang terkenal di Pasar Atas. Seperti di warung makan nasi kapau biasanya, kami langsung memesan lauk yang berada di piring kami. Memang nasi kapau bukittinggi dengan nasi padang berbeda dengan penyajian serta lauk-pauk yang ada. Nasi kapau Uni Lis sangat direkomendasikan untuk disinggahi saat anda sedang di Bukittinggi.
                Setelah itu kami mengunjungi tempat wisata yang popular di Bukittinggi yaitu Jam Gadang. Jam Gadang merupakan jam kuno peninggalan masa kolonial Belanda di Bukittinggi. Sesampai disana kami berfoto-foto di dekat Jam gadang. Karena ramai, kami tidak berlama-lama disana.



Kami membeli souvenir baju dan balik ke mobil. Saat menuju mobil saat itu sedang gerimis dan jalanan yang macet. Kami melihat sebuah warung Kopi Aceh ditengah kemacetan. Kami memutuskan untuk mampir dan minum 2 gelas kopi untuk mengobati rasa kangen dengan kopi aceh.
                Kami merencanakan perjalanan selanjutnya. Awalnya kami mau mengunjungi wisata Kelok 9. Namun Kelok 9 jauh dengan tujuan kami yaitu Padang. Kami memutuskan untuk pergi menuju kelok ampek-ampek (44) yang berada di dekat Danau Maninjau. Pukul 11.30 kami berangkat dari Kota Bukittinggi menuju Danau Maninjau. Selama perjalanan kami tidak tahu kalau akan disuguhi pemandangan yang apik. Awalnya kami kira hanya perbukitan biasa, namun lama-lama pemandangan ini semakin keren. Yaitu Ngarai Sianok, tempat wisata di sekitar pinggir Kota Bukittinggi. Kami tidak sempat mampir di Ngarai Sianok.
                Kami menikmati perjalanan kami menuju Danau Maninjau. Cukup seru melintasi 44 Kelok ke bawah menuju danau. Setelah kelok terakhir, kami mengambil belok kanan dan menyusuri danau.


Kami mampir untuk shalat di Masjid di dekat danau. Masjid tersebut cukup besar dan ramai oleh pengunjung danau. Masjid tersebut bernama Masjid Raya Bayur. Kami sampai di Masjid tersebut pukul 13.05 dan meninggalkan masjid pada 13.45.
                Cuaca saat itu mendung, jadi kami tidak mampir ke tepi Danau Maninjau.Perjalanan kami sekarang menuju Padang. Tidak dengan balik arah, namun kami tetap lurus sampai Pariaman.
                Selama perjalanan, kami melihat keramaian. Banyak sekali warga lokal yang membawa anjing pemburu. Hampir semua warga lokal parkir dengan motor di pinggir jalan dengan membawa anjingnya masing-masing. Kami bertanya pada salah satu warga lokal, bahwa sedang ada lomba berburu babi didekat sana. Menurut pengetahuan kami babi bukan binatang buruan warga lokal sana yang merupakan mayoritas muslim. Babi disana diburu karena tradisi nenek moyang mereka, dan mereka tidak memakannya.

                Jalan semakin sempit, dan kami menemukan sebuah sungai kecil yang sepi. Kami mampir turun ke pinggir sungai untuk berfoto-foto.






                Kami meneruskan perjalanan sampai menemukan jalan besar yaitu lintas barat sumatera. Kami mampir di Pantai di dekat Kota Pariaman. Kami hanya berfoto-foto sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.
Kami diajak oleh seorang teman untuk makan bersama di salah satu rumah makan sate padang pariaman yang terkenal di sana. Karena sudah habis, kami diajak makan bersama di warung makan Nasi Sek. Nasi sek adalah makanan khas Pariaman. Mirip dengan masakan khas sumatera barat lainnnya, namun nasi sek lauknya kebanyakan dengan menu seafood. Disajikan beberapa nasi dibungkus dengan daun ditaruh di tengah meja. Layaknya rumah makan Padang, lauk-pauk disajikan semuanya. Rumah makan Nasi Sek yang kami datangi yaitu Gubuk Salero terletak tepat di Pantai barat Sumatera. Sala cumi adalah lauk yang khas dari Pariaman.
                Kami melanjutkan perjalanan menuju Padang . Perjalanan menuju Padang tidak berjalan mulus. Karena jalan utama, pasti macet. Kami terkena macet sampai Kota Padang. Bahkan di Kota Padang pun penuh dengan kendaraan. Di Padang kami singgah membeli oleh-oleh di Kripik Balado Christine Hakim yang terkenal.
                Selepas dari Kota Padang jalanan semakin macet. Semakin malam, jalanan semakin sepi. Kami sempat berhenti sebentar di kota Painan. Setelah itu kami melanjutkan menuju Kota Bengkulu non stop. Kami bergantian menyetir setiap 2 jam. Jalanan menuju Bengkulu cukup bagus. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perjalanan. Semakin mendekat Kota Bengkulu jalanan bukan semakin baik, sebaliknya semakin buruk. Jalan berlubang besar banyak ditemui.
                Kami sampai di Kota Bengkulu pada 28 Desember 2015 pukul 10.40. Kami langsung mencari sarapan di Warung Kopi Palembang.Ada seorang teman yang mempunyai hotel di Bengkulu. Hotel itu bernama Dena Hotel.  Yasser, Yudhi dan Alix beristirahat di Hotel. Saat sedang mengecek mobil, Krisna menemukan ban yang bocor. Krisna membawa mobil ke tambal ban, dan keliling Kota Bengkulu.
                Pukul 15.00 kami meninggalkan Dena Hotel. Kami membeli oleh-oleh khas Bengkulu, dan meninggalkan Kota Bengkulu. Jalan yang kami lalui cukup baik. Namun banyak sekali tikungan-tikungan yang sangat tajam.
                Kami sampai di perbatasan wilayah Provinsi Bengkulu dengan Sumatera Selatan pada 18.30. Kami tiba di kota Lubuklinggau pada pukul 19.00. Ada seorang teman yang mengajak kami untuk makan malam di rumah makan seafood di Lubuk linggau. Kami mengobrol banyak sampai-sampai sudah pukul 20.00. Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 20.15.
                Jalan yang kami lalui cukup baik. Jalan ini tidak terlalu ramai, jadi banyak yang bilang kalau jalanan ini rawan akan perampok. Memang dari dahulu, Sumatera Selatan dan Lampung terkenal akan perampok-perampoknya di jalanan. Namun , kami tidak melihat kondisi itu selama perjalanan.
                Kami sempat berhenti sebentar di perbatasan kota Sekayu untuk meluruskan kaki.
Terdapat beberapa hal janggal saat menuju Palembang, yaitu menemukan sapi-sapi yang sedang tidur di tengah jalan. Cukup mengangetkan saat melihat sapi-sapi yang tidak dikandangkan tersebut pada malam hari di tengah jalan. Kami melihat tidak hanya satu atau dua sapi, namun banyak seperti satu peternakan tak berkandang.
                Selama perjalanan kami sudah memesan sebuah hotel di Palembang. Kami sampai kota Palembang kurang lebih pada pukul 2 dini hari. Kami langsung check in di Fave Hotel yang sudah kami pesan.

Etape 8

Palembang – Jakarta

29 Desember 2015 - 30 Desember 2015

                Berikut ini adalah bagian terakhir dari jurnal perjalanan kami.
                Setelah sarapan kami checkout dari hotel. Tujuan kami ke Palembang yaitu untuk ziarah ke makam saudara dari Yudhi yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Sebelum meninggalkan kota Palembang, kami lagi-lagi diajak seorang teman untuk makan siang di salah satu restoran pempek Palembang yang terkenal yaitu pempek candy. Pempek candy ini sudah menjadi brand pempek yang terkenal di hampir seluruh Indonesia dan pusatnya berada di Palembang. Setelah dari pempek candy, kami juga mencoba kuliner yang enak di Palembang yaitu Martabak Haji Abdul Rozak (HAR).


Terkenal dengan martabak HAR telur dengan kari kambingnya. Pempek candy dan martabak HAR wajib dicoba saat anda di Palembang.
                Kami meninggalkan kota Palembang pada pukul 15.00. Jalan menuju Lampung, seperti jalan yang kami lalui saat berangkat. Tidak ada perubahan yang besar saat kami pulang maupun berangkat.
                Kami sampai di Pelabuhan Bakauheni pada pukul 01.15 . Tanpa mengantri lama, kami meninggalkan Pulau Sumatera pada 01.30 . Dek kapal saat itu sangat penuh, jadi kami tidur di mobil. Pukul 05.15 kami sampai di Pelabuhan Merak dan segera shalat subuh di Pom bensin terdekat. Pukul 07.00  kami sampai di Jakarta.
                Selesai sudah perjalanan kami di Tanah Andalas, ikuti terus perjalanan kami yang selanjutnya. Mohon maaf apabila ada salah kata. Demikian dari kami berempat, Terima Kasih.


               
               
               
               
               





                

CONVERSATION

1 comments:

  1. Waah menarik sekali perjalanannya gan, kira-kira itu ngabisin biaya berapa pp jakarta-sabang? Terima kasih :)
    Saya juga jadi tertarik touring kesana hehe

    BalasHapus

Back
to top